PERKEMBANGAN PSIKOLOGI PADA ANAK
Oleh Wulan Wijaya
5.1 Pendahuluan Masa Perkembangan anak dapat terjadi melalui interaksi antara aspek anak, lingkungan dan tugas yang dilakukan agar anak dapat mengeksplorasi topik perkembangan yang unik. (Cuomo et al., 2021). Dimasa anak-anak, seperti yang kita ketahui anak sering melompat-lompat dan berlari serta bermain sepanjang hari. Berbagai media dan stimulasi dapat digunakan anak-anak saat mereka belajar musik, gerakan, menggambar, melukis, memahat, kolase, boneka dan penyamaran serta fotografi (Cuomo et al., 2021).
5.2 Perkembangan Bahasa Balita mempunyai Gerakan untuk menghasilkan kecepatan ucapan dua atau lebih kata agar dapat menggabungkan kombinasi tiga, empay dan lima kata. Anak usia dua dan tiga tahun, memulai masa transisi dengan mengucapkan kalimat sederhana seperti mengucapkan proposisi kata tunggal ke kalimat yang kompleks/kalimat sempurna. Ketika anak-anak mempelajari ciri-ciri khusus pada Bahasa mereka sendiri, ada keteraturan ekstensi dalam cara mereka Ketika memperoleh Bahasa/kalimat tertentu, misalnya anak mempelajari kata depan “pada” dan “di” sebelum mengucapkan kata lainnya (CameronFaulkner et al., 2010).
5.2.1 Memahami Fonologi dan Morfologi Pada Anak Selama masa prasekolah, sebagian besar anak secara bertahap menjadi lebih sensitif terhadap suara kata-kata yang diucapkan dan menjadi semakin mampu menghasilkan semua suara bahasa yang mereka tangkap dilingkungannya. Pada saat anak berusia 3 tahun, anak mampu menghasilkan semua bunyi vokal dan bunyi konsonan (Vihman et al., 2009). Saat anak mengucapkan dua kata, anak akan menunjukkan pengetahuan tentang tata cara morfologinya. Anak-anak mulai menggunakan kata bentuk jamak dan kata benda, seperti mama dan papa. Mereka menempatkan akhiran yang sesuai pada kata kerja ketika mengucapkan kata, seperti ‘’s’’ ketika yang menjadi subjeknya adalah orang ketika tunggal dan berbagai bentuk kata kerja seperti ‘saya pergi ke toko dulu’ (Tager-Flusberg & Zukowski (2009).
5.2.2 Perubahan Semantik Anak-anak lebih menunjukkan penguasaan aturan yang lebih kompleks tentang bagaimana mengurutkan kata-kata, seperti kata ‘’ke mana Ayah pergi ?’’ atau apa yang dilakukan anak itu ?’’(Tager-Flusberg & Zukowski (2009). Keuntungan dalam sematik ini juga menjadikan ciri anak usia diri. Perkembangan kosakata sangatlah penting bagi anak (Snow & Uccelli, 2009). Beberapa ahli menyimpulkan bahwa rentang usia 18 bulan dan 6 tahun merupakan masa di mana seorang anak kecil belajar satu kata baru setiap jam nya di mulai sejak dari anak bangun tidur (Williams et al., 2011).
5.3 Perkembangan Sosioemosional Pada masa anak-anak awal, kehidupan emosional dan kepribadian anak-anak berkembang dengan cara yang signifikan. Hubungan keluarga, teman sebaya sangat berperan yang sangat signfikan dalam perkembangan anak-anak. Banyak perubahan yang menjadi ciri perkembangan emosional seorang anak. Pikiran dan pengalaman social anak yang berkembang dapat menghasilkan kemajuan yang luar biasa bagi perkembangan diri anak, kematangan emosi, pemahaman moral, dan kesadaran gender. Pada awal masa kanak-kanak, anak-anak berkembang dengan banyak cara untuk meningkatkan pemahanan tentang diri mereka sendiri.
5.3.1 Initiative Versus Guilt Pada bagian ini, membahas tentang kepercayaan dengan ketidakpercayaan, rasa malu dan ragu, menjelaskan apa yang dianggap sebagai tugas perkembangan utama masa anak. Tahap psikologi pada initiative versus guilt yaitu rasa bersalah. Pada masa anak-anak, mereka mulai menemukan pribadi mereka sendiri dan mulai menemukan keinginan apa yang mereka harapkan. Selama masa kanak-kanak, anak-anak menggunakan keterampilan persepsi, motorik, kognitif dan bahasa untuk mengexplorasikan apa yang mereka ingin ketahui. Anak-anak lebih semangat untuk belajar dan mamulai sesuatu yang baru tanpa harus takut gagal. Berdasarkan penelitian menyebutkan bahwa, jika terjadi peningkatan pemahaman dan kesadaran psikologis pada anak mencerminkan terjadinya perkembangan psikologis pada anak (Carpendale & Lewis, 2015).
Pemahaman diri tentang anak, sudah mulai berkembang seperti representasi diri, substansi dan isi konsepsi diri (Harter, 2006). Meskipun secara keseluruhan pemahaman diri dapat memberikan dasar-dasar yang rasional pada anak. Para peneliti telah melakukan penelitian terhadap anak-anak tentang aspek pemahaman diri. Pemahaman diri anak melibatkan pengenalan diri. Pada anak yang berusia 4 tahun, anak akan mengatakan ‘’ya’’, padahal sebenarnya ‘’tidak’’. Pada anak-anak, kemampuan mereka cenderung membingungkan serta usaha (berfikir bahwa perbedaan kemampuan dapat diubah) (Thompson - 2008). Anak-anak membuat kemajuan dalam pemahaman tentang orang lain dimasa kanak-kanak (Carpendale & Lewis, 2015).
Pikiran anak mencakup pemahaman bahwa orang lain memiliki emosi dan keinginan. Anak-anak tidak hanya mulai menggambarkan diri mereka sendiri, tetapi juga memahami orang dalam hal psikologis. Para peneliti menemukan bahwa anak usia 4 tahun atau dibawahnya dapat membuat pernyataan yang tidak benar untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau anak bisa untuk menghindar dari masalah. (Lee & Allaway, 2002). Salah satu penelitian menyebutkan bahwa anak usia 4 dan 5 tahun semakin tidak percaya ketika mereka harus bermain bersama-sama dalam suatu kegiatan kelompok.
5.3.2 Industry Versus Inferiority Pada masa anak dapat mencapai industry dengan cara menguasai pengetahuan dan kecakapan intelektual. Ketika anak tidak meraih keduanya, mereka akan merasa inferior. Pada masa anak-anak awal, anak-anak siap untuk mengarahkan tenaganya guna mempelajari akademis. Jika tidak, anak-anak dapat mengembangkan perasaan yang tidak kompeten dan tidak produktif. Industry maksutnya, yaitu mendapatkan kompetensi dalam keahlian akademis dan kemampuan untuk terlibat dalam disiplin diri dan kerja keras. Dengan demikian, anak-anak seharusnya tumbuh menuju tingkat otonomi dan rasa percaya diri yang lebih tinggi ketika tumbuh dari bayi ke usia sekolah dan seterusnya. Pada tahap ini, peran orang tua dapat memfasilitasi pertumbuhan anak atau bisa menggagalkan pertumbuhan tersebut dengan sikap terlalu protektif atau lalai.
5.4 Perkembangan Emosional Pada bagian ini, realisasi sosial menjadi tempat perkembangan berbagai emosi (Thompson - 2008). Tumbuhnya kesadaran diri anak terkait dengan kemampuan untuk merasakan emosi. Anak, sama hal nya dengan orang dewasa, mengalami banyak emosi setiap hari. Perkembangan emosional mereka dimasa anak-anak memungkinkan anak untuk mencoba memahami reaksi emosional orang lain dan mulai mengendalikan emosi mereka sendiri. Bayi kecil mengekpresikan emosinya melalui seperti kegembiraan dan ketakutan, akan tetapi untuk mengalami emosi sadar siri anak-anak-anak harus dapat menyebutkan diri mereka sendiri dan menyadari bahwa mereka berbeda dengan anak lainnya (Lewis & Sullivan, 2014).
Dari awal masa anak-anak, emosi seperti kebanggan dan rasa bersalah menjadi lebih umum. Misalnya, seorang anak mungkin merasa malu ketika orang tua nya berkata, „“ kamu seharusnya meresa tidak enak karena telah menggigit adikmu“. Diantara perubahan terpenting pada anak terutama dalam perkembangan emosi pada anak usia dini adalah peningkatan pemahaman tentang emosi. Selama masa anak-anak, anak-anak semakin memahami bahwa situasi tertentu cenderung membangkitkan emosi, seperti ekspresi wajah yang mneunjukkan emosi tertentu dan emosi mempengaruhi perilaku dan emosi yang dapat digunakan untuk mempengaruhi emosi lainnya (Nader-Grosbois et al., 2022).
Sebuah meta-analisis baru-baru ini mengungkapkan bahwa pengetahuan emosi (seperti memahami isyarat emosional; misalnya, ketika seorang anak kecil memahami bahwa teman sebaya nya merasa sedih karena ditinggalkan dalam permainan) berhubungan positif dengan anak usia 3 hingga 5 tahun. Kompetensi sosial (seperti menawarkan respons empatik kepada anak yang ditinggalkan dalam permainan) dan berhubungan negatif dengan internalisasi mereka (kecemasan tingkat tinggi) dan masalah eksternalisasi (perilaku agresif tingkat tinggi) (Trentacosta & Fine, 2010).
Antara usia 2 hingga 4 tahun, anak-anak sanagt meningkatkan jumlah istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan emosi. Selama waktu ini, anak-anak belajar tentang penyebab dan konsekuensi dari perasaan (Denham et al., 2010). Penelitian menurut (Davidov & Grusec, 2006) menyebutkan bahwa perkembangan emosional anak tergantung pada aspek pengasuhan. Dalam penelitian disebutkan bahwa, orang tua terkadang mengalami kesulitan saat menanggapi maksut dari anak-anak, sehingga hal tersebut menyebabkan anak mudah untuk meluapkan emosinya.
Seorang anak sangat membutuhkan perhatian, epmati serta repson dari orang tua nya. Orang tua (Ibu) harus bisa menciptakan suasana yang hangat, bukan sebaliknya, dikarenakan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pengaturan emosi positif anak (Davidov & Grusec, 2006). Kehangatan orang tua seringa dikaitkan dengan pengasuhan yang positif, namun orang tua yang kurang merespon tanggapan dari anak akan menciptakan kesulitan pada anak sehingga timbul emosi yang tidak diinginkan (Davidov & Grusec, 2006). Orang tua ketika bermain dengan anak mempunyai peran penting dalam mengatur emsoi anak. Semuanya tergantung bagaimana orang tua berbicara dengan anak-anak tentang pengendalian emosi. Orang tua dapat digambarkan sebagai pelatihan emosi atau menghilangkan emosi (Gottman, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
Cameron-Faulkner, T., Matthews, D., & Serratrice, L. 2010. Jean Berko Gleason (ed.), The development of language, 6th edn. Boston, MA: Pearson, 2005. Pp. 516. ISBN 0205394140. Robert E. Owens, Language development: An introduction, 7th edn. Boston, MA: Pearson, 2008. Pp. 509. ISBN 0023901810.William O’Grady, How children learn language.
Cambridge: Cambridge University Press, 2005. Pp. 248. ISBN 0521531926 (paperback). Journal of Child Language - J CHILD LANG, 37. https://doi.org/10.1017/S0305000909009453 Carpendale, J. I. M., & Lewis, C. 2015. The Development of Social Understanding. In Handbook of Child Psychology and Developmental Science (pp. 1–44). John Wiley & Sons, Ltd. https://doi.org/10.1002/9781118963418.childpsy210
Cuomo, B., Joosten, A., & Vaz, S. 2021. Scoping review on noticing concerns in child development: A missing piece in the early intervention puzzle. Disability and Rehabilitation, 43(18), 2663– 2672. https://doi.org/10.1080/09638288.2019.1707296
Davidov, M., & Grusec, J. E. 2006. Untangling the links of parental responsiveness to distress and warmth to child outcomes. Child Development, 77(1), 44–58. https://doi.org/10.1111/j.1467- 8624.2006.00855.x
Denham, S. A., Bassett, H. H., & Wyatt, T. M. 2010. Gender differences in the socialization of preschoolers’ emotional competence. New Directions for Child and Adolescent Development, 2010(128), 29– 49. https://doi.org/10.1002/cd.267 Gottman, 2009. (n.d.). Parenting—Research. The
Gottman Institute. Retrieved September 8, 2022, from https://www.gottman.com/about/research/parenting/
Harter, S. 2006. Developmental and Individual Difference Perspectives on Self-Esteem. In Handbook of personality development (pp. 311–334). Lawrence Erlbaum Associates Publishers.
Lee, J., & Allaway, A. 2002. Effects of personal control on adoption of self‐service technology innovations. Journal of Services Marketing, 16(6), 553–572. https://doi.org/10.1108/08876040210443418
Lewis, M., & Sullivan, M. W. (Eds.). 2014. Emotional Development in Atypical Children. Psychology Press. https://doi.org/10.4324/9781315806044
Nader-Grosbois, N., Jacobs, E., Mazzone, S., & Poirier, N. 2022. Mothers’ Socialization of Emotions and Theory of Mind and Emotion Regulation in Children with Autism Spectrum Disorders. Psychology, 13(01), 177–219. https://doi.org/10.4236/psych.2022.131011
Snow, C., & Uccelli, P. 2009. The Challenge of Academic Language. In The Cambridge Handbook of Literacy (pp. 112–133). https://doi.org/10.1017/CBO9780511609664.008
Tager-Flusberg & Zukowski. 2009. (n.d.). Scribd. Retrieved August 25, 2022, from https://www.scribd.com/document/227710117/TagerFlusberg-Zukowski-2009-147-173
Thompson - 2008. (n.d.). Reassessing Emotion Regulation—- Child Development Perspectives—Wiley Online Library. Retrieved September 2, 2022, from https://srcd.onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/j.1750- 8606.2008.00054.x
Trentacosta, C. J., & Fine, S. E. 2010. Emotion Knowledge, Social Competence, and Behavior Problems in Childhood and Adolescence: A Meta-Analytic Review. Social Development (Oxford, England), 19(1), 1–29. https://doi.org/10.1111/j.1467- 9507.2009.00543.x
Vihman, M., Depaolis, R., & Keren-Portnoy, T. 2009. A dynamic systems approach to babbling and words. The Cambridge Handbook of Child Language, 163–182. https://doi.org/10.1017/CBO9780511576164.010
Williams, C., Akinsiku, O., Walkington, C., Cooper, J., Ellis, A., Kalish, C., & Knuth, E. 2011. Understanding students’ similarity and typicality judgments in and out of mathematics.